KUNJUNGAN FOTO IBU LISA TIRTO UTOMO


“Senang sekali kami menerima foto Ibu Lisa Tirto Utomo. Sebelumnya saya sudah minta ijin untuk membuat repro dari buku Untukmu Indonesia dan memasangnya di sanggar kami.” Begitu kata Yohanes Suwito, pengurus Sanggar Tirta Kirana di Slogohimo, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Ia termasuk satu di antara belasan sanggar dan 22 sekolah yang menerima kiriman foto di akhir Agustus 2020.
Sejak Maret 2020 Indonesia dan dunia dirundung wabah Virus Corona yang disebut Covid-19. Terutama bagi warga yang berusia 60 tahun ke atas, sebaiknya tidak keluar rumah, kecuali untuk urusan yang tidak bisa dihindari. Ibu Lisa Tirto Utomo (86 tahun) harus patuh tinggal di rumah. Padahal biasanya tak pernah henti berkeliling ke berbagai pelosok negeri.
Rupanya sanggar-sanggar kesenian di daerah pun rindu untuk dikunjungi. Meskipun kegiatan menurun dan jumlah aktifis yang hadir dibatasi, beberapa sanggar tetap aktif berlatih, bahkan pentas secara daring. Demikian pula lembaga-lembaga pendidikan yang menerima bantuan dari Yayasan Tirto Utomo.
Maka, untuk mempererat silaturahmi dan mengobati rasa rindu, Ibu Lisa Tirto Utomo mengirimkan fotonya. Sambutannya sangat meriah, dan memasang foto itu di tempat terhormat dalam sarana belajar mereka. Pambudi Sulistio, pemimpin Sanggar lukis dan karawitan Tirto Kelopo mendoakan, “Semoga Ibu Tirto sehat dan bahagia selalu.”
Foto-foto lainnya dikirim ke Sumatera Utara, Kalimantan, Sulawesi, Jawa Barat dan Maluku. Meskipun Ibu Lisa Tirto Utomo tidak dapat berkunjung secara langsung, semoga kehadiran fotonya bisa mengurangi rasa rindu untuk bertemu. Terima kasih kepada semua yang telah membalas berkirim foto dan video di tempat kegiatan masing-masing. Semoga pandemic segera berlalu, dan kita akan bertemu lagi dalam suasana normal baru. ***

MERAWAT SANGGAR INDONESIA

Dalam tradisi lama, Sanggar adalah tempat pemujaan di pekarangan rumah. Sekarang yang banyak kita jumpai adalah sanggar seni, sanggar silat, sanggar kerja dan sanggar pengantin. Yayasan Tirto Utomo menaruh perhatian pada sanggar seni, teristimewa seni tari, wayang, karawitan dan seni pertunjukan. Dalam sanggar pertunjukan kita bisa berlatih dan menikmati reog, jatilan, ketoprak atau srandul, wayang orang, pameran kostum tradisional dan benda-benda kerajinan.
Itulah yang dapat kita lihat di Omah Wayang Putro Tirto Utomo. Terletak di Dukuh Jombor, Desa Danguran, Kecamatan Klaten Selatan, Jawa Tengah. Di tempat itu pula kita bisa melihat orang menatah wayang kulit. Jadi Omah wayang ini bukan hanya sanggar seni, tapi juga sanggar kerja. Ada yang menatah wayang, menjahit kostum tradisional , kerajinan janur, dan seterusya.
Omah Wayang aktif sejak 2004 dan pada 2010 sudah punya panggung sederhana. Itulah yang direnovasi dengan bantuan Ibu Lisa melalui Yayasan Tirto Utomo. Kata putro ditambahkan pada namanya untuk mengutamakan generasi muda. “Semoga anak-anak lebih bersemangat dan lebih giat lagi belajar di sini.” Begitu pesan Bapak Kristiaji, Sarjana seni dan Sarjana Pedalangan, pemimpinnya.
Prestasi Omah Wayang boleh dicatat luar biasa. Pada tahun 2017 ia menerima hadiah pertama UNESCO dalam acara di Okayama, Jepang. “Omah Wayang dipercaya masyarakat merekonstruksi seni yang hampir punah, melahirkan banyak karya, membangun identitas desa dan memberikan kontribusi bagi perkembangan seni budaya tradisional di Kabupaten Klaten.” Demi kian pernyataannya.
Tidak mengherankan bila banyak pengajar dan siswanya mendapatkan berbagai penghargaan. Para wisatawan dari mancanegara pun suka datang. Bisa ikut belajar menabuh gamelan, menari, atau mengenakan jablak – ikat kepala khas Klaten, dan memotret.
“Pada awalnya, kami punya seperangkat gamelan besi. Setelah peminatnya semakin banyak, Ibu Lisa mengirimkan gamelan perunggu,” cerita Kristiadi. Sanggar ini termasuk paling giat dan punya banyak relawan. Dari jendela lantai dua, kita dapat memandang Gunung Merapi. Di lantai ini tersedia satu perangkat lagi untuk rekaman dan siaran streaming, melalui online.
Mendukung Sanggar Terpencil
Kebanyakan sanggar yang didukung Yayasan Tirto Utomo terletak cukup jauh dari kota besar. Sanggar Tirta Kirana, misalnya, terletak di lereng Gunung Lawu, 90 km dari Surakarta. Itulah yang paling jauh di selatan – mendekati perbatasan Jawa Timur. “Para anggota kami berasal dari 17 desa. Jaraknya antara 5 hingga 15 km,” kata Yuhanes Suwito, pengurusnya. “Meskipun begitu, semua bersemangat untuk berlatih.”
Semangat dan kerja keras para aktifis sanggar itulah yang menggerakkan Yayasan Tirto Utomo untuk ikut mendukung. Seni karawitan dan pewayangan memerlukan fasilitas tempat dan peralatan yang memadai. Seperangkat gamelan besi harganya di atas Rp70 juta. Sedangkan yang terbuat dari perunggu di atas Rp 250 juta. Tetapi justru gamelan itulah yang mendatangkan penabuh dan pembelajar. Mereka rela datang dari jauh, termasuk dari luar-negeri.
Sanggar Tirta Kelapa – yang terletak di tepi Sungai Boyong, Pakem – punya cerita lain lagi. “Kegiatan ini berawal dari penolakan pada pertambangan pasir di sungai dengan alat besar,” kata Pambudi, ketuanya. Dia seorang pengrajin, lulusan Akademi Seni Rupa Inodonesia (ASRI) di Yogya jurusan seni kriya logam. Kegiatannya sehar-hari membuat kerajinan dari tembaga.
Pambudi tinggal di Magelang. Tetapi rumah ibunya terletak dekat sungai itu dan cukup luas untuk dijadikan sanggar. “Mula-mula kami mendirikan patung-patung di tepi sungai. Suasananya jadi sakral – dan membuat orang berhenti mengeruk pasir. Setelah suasana tenang, kami kembali aktif sebagai seniman. Kebanyakan melukis, tapi ada juga yang rutin bermain gamelan.”
Yayasan Tirto Utomo membantu pembangunan pendapa berukuran 15 X 35 meter. Di dalam pendapa itulah diadakan berbagai kegiatan. Hasil utama sanggar ini adalah lukisan. Beberapa kali dikirim ke kota untuk dipamerkan di Bentara Budaya dan di Yogya Galeri. Fasilitas Sanggar Tirta Kelapa, meskipun letaknya terpencil, cukup memberi suasana baru di Desa Glondong, Kabupaten Sleman ini.
Dari kawasan Gunung Kidul sampai Kulonprogo, terdapat belasan sanggar yang didukung oleh Yayasan Tirto Utomo. Sanggar-sanggar lain termasuk Tirto Arum Sari di Sedayu, Tirta Kirana di Slogohimo, Wonogiri, Jawa Tengah; Tirto Siswo Laras dan Wahyu Tirto Budoyo di Klaten, Tirta Laras di Kulon Progo, dan seterusnya.
Berterima Kasih Pada Alam
Yayasan Tirto Utomo ingin mengembalikan kebaikan bumi. Begitu dikatakan Ibu Lisa Tirto Utomo saat mendukung Sanggar Tirto Jati Kusumo di Wonosari, Gunung Kidul. Dukungan apakah yang diberikan kepada sanggar ini?
Sebuah rumah joglo sebagai pendapa sanggar untuk latihan. Di dalamnya ada seperangkat gamelan besi bernama Nyai Tirtomoyo, hibah dari Omahku Wacana Tirtomoyo di Karang Rejek, juga di Kawasan Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Mengapa wayang dan gamelan perlu mendapat dukungan? Karena “gamelan” dalam bahasa Jawa artinya pegangan. Selama ada wayang dan gamelan, masyarakat tradisional di Pulau Jawa merasa punya pegangan.
Gamelan dan wayang itu bisa menghidupi dan menghidupkan. Jadi bukan hanya menghibur dan mendidik masyarakat melalui kisah-kisah pewayangan, tapi juga memberikan penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari.
Pak Suharno Siswo Raharjo pemimpin Sanggar Tirto Laras bisa memberi contoh. “Sebelum ada wabah Korona,” katanya, “Seorang penabuh kendang bisa mendapat honorarium Rp300,000,- sekali pentas. Kalau pemain gender dan rebab dapat Rp200,000,- penabuh dan tenaga angkat-angkut, masing-masing Rp 100,000,-“
Jangan lupa, satu tim penabuh gamelan standarnya 13 orang. Tentu, honorarium itu hanya untuk yang telah berlatih dengan baik dan untuk hajatan di tingkat lokal. Kalau mendapat pesanan di tempat lain, biasanya lebih tinggi. Untuk perawatan gamelan saja perlu disisihkan Rp500,000,- setiap kali dimainkan.
Pak Wakidi pemimpin Wacana Tirtomoyo didukung 325 anggota. Kegiatannya meliputi karawitan, tari, gejok lesung, wayangkulit reyog klasik dan adat gumbregan. Perangkat gamelannya perunggu dan kuningan didapat pada 2016. Wayang kulitnya dari 2017. Setiap kali acara bisa menampung tamu 400 orang, di kawasan seluas 2000 meter persegi.
Sanggar adalah sarana berkumpul dan hidup berbudaya bagi masyarakat tradisional. Beberapa sanggar percaya bahwa gamelan adalah instrumen yang sakral. Sebagai contoh, konon gamelan besi Nyai Tirtomoyo di Karangrejek, kalau Selasa malam pernah berbunyi sendiri.
Untuk memberi suasana baru, gamelan ini dipindah ke Desa Wunung di Wonosari. Namanya diganti menjadi Nyai Tirto Jati Kusumo. Memang sejarah sanggar itu terhubung dengan makam Eyang Jati Kusumo di bawah pohon besar. Sebagai tanda terima kasih, dijadikan Tirto Jatikusumo. Pimpinannya Bapak Sumaryadi, kegiatannya termasuk merti desa, upacara tahunan.
“Saya kagum pada kelompok-kelompok kesenian di Pulau Jawa ini,” kata Ibu Lisa. “Mereka punya inisiatif yang besar, rajin berlatih dan semangat gotong-royong yang sangat tinggi.” Di antaranya ada juga yang terkait langsung dengan kegiatan agama, baik pesantren, gereja maupun wihara. Contohnya adalah Tirta Dhamma Swara, di Slogohimo, Wonogiri.
Sanggar itu didukung oleh umat di Vihara Dhamma Sasana, desa Karang. Kegiatannya karawitan, tari dan penyewaan gamelan. Sanggar Tirta Kirana pun ikut melatih karawitan di sini. Tarian yang diajarkan sesuai dengan kegiatan di wihara, misalnya Tari Buddha Pelita Dunia, dan untuk perayaan-perayaan lainnya. *** (Eka Budianta)

Kumpulan Flyers Berbagai Tempat Binaan Yayasan Tirto Utomo

Karo – Samosir – Jangga Dolok

Minangkabau

Omah Wayang

Omahku Wacana Tirtomoyo

Puri Agung Singaraja

Rumah Tenun Tirta Dharma

Rumah-Rumah Adat Nias

Sumba

Tirta Dhamma Swara

Tirta Kirana

Tirta Laras

Tirto Arum Sari Sedayu

Tirto Jati Kusumo

Tirto Siswo Laras

Wae Rebo

Wahyu Tirto Budoyo