JANGGA DOLOK IKON TOBA SAMOSIR


Pada masa lalu ada empat rumah adat di desa Jangga Dolok. Itulah daya tarik utama – bahkan menjadi ikon kabupaten Toba Samosir. Para wisatawan dari dalam dan luar-negeri, suka datang ke Jangga Dolok untuk mengagumi arsitektur rumah adat Batak Toba dan membeli kain tenun yang indah.

Sayangnya, empat rumah yang di antaranya sudah berumur 250 tahun itu terbakar habis. Waktu itu malam tahun baru, 1 Januari 2016. Api bergerak cepat sehingga empat rumah adat tidak tersisa. Upaya mengembalikan rumah adat itulah yang menjadi diutamakan oleh Yayasan Tirto Utomo.

Dengan dukungan gerakan Rumah Asuh dan masyarakat adat, akhirnya satu dari empat rumah adat yang legendaris bisa berdiri kembali. Peresmiannya dilaksanakan selama dua hari, 14 – 16 September 2018. Lebih dari 300 tamu berdatangan dari berbagai penjuru. Termasuk di antaranya 85 pencinta Arsitektur Nusantara.

Di antara yang hadir terdapat para cendekiawan dan guru-besar dari Institut Teknologi Surabaya, Universitas Sugyopranoto Semarang, Universitas Indonesia, ITB, dan berbagai perguruan tinggi terkenal. Peserta dari Belanda dan Amerika Serikat pun tidak ketinggalan. Mereka menyambut berdirinya kembali bangunan adat yang diusahakan seindah aslinya.

Bukan saja bentuknya yang tepat, tapi cara pembangunannya pun diusahakan seperti tata-cara di masa lalu. Bahannya kayu Pokki – dengan ukir-ukiran adat dan pewarna alami. Itulah keistimewaan rumah adat Jangga Dolok. Serangkaian upacara adat digelar sebagaimana aslinya. Para tamu menari tortor dan berbusana ulos Batak Toba. Lagu-lagu, kostum dan kuliner disesuaikan dengan sebaik-baiknya.

Proses pembangunan rumah adat ini memakan waktu dua tahun. “Ada tiga pihak yang sangat besar peranannya,” kata Yori Antar. “Mereka adalah masyarakat adat, donatur yang menyandang dana, dan para pendukung yang terdiri dari para aktivis baik dalam maupun luar negeri.”

Rumah adat Jangga Dolok merupakan dukungan Yayasan Tirto Utomo, selain rumah adat di berbagai daerah. Sebelumnya, Yayasan Tirto Utomo juga mendukung revitalisasi rumah adat di Sintang, Kalimantan Barat, di Wae Rebo, Flores, di Sumba, Nias, Sumatera Barat dan Batak Karo.

Setiap rumah adat diusahakan memberi semangat konservasi dan kebanggaan etnis masing-masing. Sekarang rumah adat Jangga Dolok dijadikan “home stay” yang bisa menampung 25 orang. Mereka mendapat pengalaman budaya dan keistimewaan daerah masing-masing. Serentak dengan itu, kegiatan tradisional dihidupkan kembali. Ada kegiatan menenen, permainan musik, sendratari opera Batak, dan kuliner Batak yang khas.

Anak-anak muda kembali digiatkan. Aktifis yang mendorong kegiatan ini adalah Joyce Melisa Manik. Dia ikut mengasuh dan mendukung berkembangnya sejumlah sanggar tari, bahkan kegiatan olahraga. Yayasan Tirto Utomo juga dikenal mendukung kegiatan olahraga, mulai dari bulu-tangkis, renang hingga sepak bola. Tentu saja upaya mengembalikan pamor Baatak Toba ini mendapat perhatian dari pemerintah daerah setempat dan media massa. Bupati Toba Samosir dan segenap jajaranannya datang ke peresmian dan ikut memeriahkan acara dengan berbagai kegiatan. (E.B) ***

IMG_9628
IMG_9517
IMG_9255
IMG_9075
IMG_9071
IMG_8994
IMG_8990
IMG_8989
IMG_8988
IMG_8986
IMG_8984
IMG_8982
IMG_8976
IMG_8874
IMG_8648
IMG_8587
IMG_8581
IMG_8335
IMG_8321
WhatsApp Image 2018-09-25 at 06.00.26

JANGGA DOLOK INAUGURATION
14,15,16 SEPTEMBER 2018
Day # 1,Friday, 14 September 2018
09.00 – 10.00 : Arrived at Silangit Airport
10.00 – 11.00 : Enjoy the scenery of Lake Toba and Samosir Island From Hutaginjang Hill
11.00 – 12.00 : Land ride to Balige Port
12.00 – 13.00 : Lunch
13.00 – 14.00 : Land ride to Balige Port
14.00 – 17.00 : Boat experience (Explore Balige – Situmurun Waterfall – Parapat) Live music performance by local band. Experience coffe “Kopi Jangga” brewing on the boat.
19.00 – 21.00 : Dinner and free time
21.00 – 22.00 : Rest

Day #2,Saturday, 15 September 2018
06.00 – 07.00 : Free time & enjoy the morning ambiance
07.00 – 08.00 : Breakfast & coffee time
08.00 – 10.00 : Acara Adat
10.00 – 12.00 : Mangalahat Horbo Ceremony
12.00 – 13.00 : Lunch ( a la kampung)
13.00 – 17.00 : Pesta Budaya Rakyat
17.00 – 18.00 : Cultural Night Preparation
18.00 – 19.00 : Dinner
19.00 – 20.00 : Jangga Dolok Inauguration Ceremony

Day#3, Monday 16 September 2018
07.00 – 08.00 : Breakfast
08.00 – 09.00 : Land ride to Silangit Airport
10.00 – 11.00 : Bye -bye Lake Toba

0

Tour Pasola Sumba

Pasola, merupakan tradisi ritual budaya yang dirayakan setiap tahun di 2 (dua) wilayah kabupaten yakni: Sumba Barat (Lamboya, Wanukaka dan Gaura) dan Sumba Barat Daya (Kodi). Tradisi ini merupakan ungkapan rasa syukur kepada Sang Khalik atas hasil panen seperti padi, jagung, kacang-kacangan dll. Ritual pasola ditandai dengan beberapa tahapan acara seperti: Sembahyang (nyekar) dengan cara meletakkan sirih-pinang di atas makam leluhur, pungut nyale (sejenis cacing laut), Pasola (berlemparan lembing di atas punggung kuda) dan makan bersama (perjamuan) sebagai satu keluarga/suku.

Rumah Budaya Sumba menawarkan paket tour selama 3 hari dari hari Sabtu tanggal 18 Maret – selasa 21 Maret 2017. Selain menyaksikan acara pasola tahunan anda dapat mengenal ragam budaya Sumba yang kaya unik serta panoramanya yang eksotis.

Hari I, Sabtu 18 Maret
Pk. 11.35 : Peserta tour tiba di Tambolaka Airport –Weetebula – Sumba Barat Daya.
Pk. 12.00 : Para tamu menuju Rumah Budaya Sumba.
Pk. 13.00 : Makan siang di Rumah Budaya.
Pk. 14.30 : Mengunjungi Danau Waikuri di Kodi – berenang – menyaksikan Sunset di Tanjung Karoso (ujung paling barat dari Pulau Sumba)
Pk. 19.00 : Makan malam di Rumah Budaya Sumba
Pk. 21.00 : Istirahat

Hari II, Minggu, 19 Maret
Pk. 07.00 : Sarapan pagi di Rumah Budaya
Pk. 08.00 – 16.00 : Berangkat ke Waikabubak, ibu kota kabupaten Sumba Barat dengan terlebih dahulu mengunjungi Waikelo Sawah : sumber air dari gua alam; mengairi ratusan hektar sawah pertanian. Melanjutkan perjalanan ke Waikabubak, Melihat perkampungan adat Tarung Waitabar di pusat kota Waikabubak; sebuah perpaduan hidup modern dan tradisional yang jarang ditemukan dalam kehidupan masyarakat kota modern. Melanjutkan tour kepantai Kerewee, selatan kota Waikabubak (26 km); menyaksikan pemandangan excotic padang sabana. Makansiang di arena pasola Lamboya.
Pk. 16.00 : Kembali ke Rumah Budaya.
Pk. 19.00 : Makan Malam di Rumah Budaya.
Pk. 20.00 : Mengunjungi Museum Sumba, barang-barang purbakala koleksi Lembaga Studi dan Pelestarian Budaya Sumba.
Pk. 21.00 : Istirahat

Hari III, Senin, 20 Maret
Pk. 06.30 : Sarapan pagi di Rumah Budaya
Pk. 07.00 – 13.00 : Berangkat menuju tempat Pasola Wainyapu – wilayah Kodi Bangedo. Makan siang di Kampung Wainyapu. Kampung ini terkenal sebagai kampong tua yang tetap mempertahankan keaslian bangunannya. Kini berdiri 35 buah rumah tradisional, menghadap samudera Hindia. Kembali ke Weetebula, singgah mengunjungi kampong Ratenggaro; salah satu bangunan rumah adatnya diresmikan tahun lalu dan memiliki menara paling tinggi di seluruh Sumba (35 m dari ground). Kampung ini terletak di bibir samudera Hindia; pantai excotis dengan pasir putih dan megalith tua usia ratusan tahun.
Pk. 14.00 : Kembali ke Weetebula terlebih dahulu mampir di Pantai Bawana (batu gawang Surgawi), istirahat siang.
Pk. 15.30 : Mengunjungi pasar tradisonal Radamata (4 km daripenginapan); melihat orang jualan kain dan lain-lain.
Pk. 16.30 : Mengunjungi pantai Waikelo: dermaga: transportasi laut dari luar Sumba dan ke luar Sumba. Menyaksikan sunset
Pk. 19.00 : Makan Malam di Rumah Budaya dilanjutkan dengan farewel party; sharing pengalaman peserta tour (evaluasi).
Pk. 22.00 : Istirahat

Hari IV, Selasa, 21 Maret
Pk. 07.00. : Sarapan pagi di Rumah Budaya
Pk. 08.00. : check out dan siap menuju bandara Tambolaka.
Pk. 10,00 : Take off menuju Denpasar – Sayonara.

Tarif tour selama 4 hari
1. Tiket pesawat PP Jakarta – Sumba ditanggung dan diatur sendiri oleh masing-masing peserta tour.
2. Biaya atau akomodasi tour selama 4 hari di Sumba: Penginapan makan + minum + snack + kendaraan dll Rp. 3.500.000 (tiga juta lima ratus ribu rupiah) /orang.
3. Transaksi pembayaran paket tour melalui rekening BNI 46. Cabang Kupang: 0260945092 atas nama Lembaga Studi dan Pelestarian Budaya Sumba. Setiap transaksi dan bukti pembayaran mohon disampaikan kepada staf keuangan (bendahara) kami Nona Rince (HP. 081 238 688 60).

Contact Persons:
Lembaga Studi dan Pelestarian Budaya Sumba (LSPBS)
Sumba Cultural Research & Conservation Institute
E-mail: sumbarumahbudaya@gmail.com
P. Desius Kaki, C.Ss.R: HP. 081 328 494 184
P. MateusTunu, C.Ss.R; HP. 081 391 423 294
Nona Rince; HP. 081 238 688 60
Novi Felisia Giza; Hp. 085333707337
P. Robert Ramone, C.Ss.R: HP. 081 339 362 164

0